Tanda-tanda Stres dan Cara Mengatasinya

Tanda-tanda Lelah Otak dan Cara Mengatasinya
Tanda-tanda Lelah Otak dan Cara Mengatasinya

Healmind – Simak penjelasan tentang apa itu stres, tanda-tanda, dan cara mengatasinya, di sini.

Dikutip dari RS Siloam, Stres adalah masalah kesehatan mental terbesar yang rentan dialami masyarakat di negara-negara maju dan berkembang, sehingga tak heran apabila semakin banyak orang mencari cara mengatasi stres.

Penyebab stres sendiri dapat dipicu oleh berbagai keadaan seperti kemacetan lalu lintas, ketakutan terlambat sampai di tempat kerja, situasi pernikahan yang tidak harmonis, hingga kekhawatiran terhadap ketidakpastian akan masa depan.

Stres juga berperan secara langsung maupun tidak langsung sebagai pemicu berbagai penyakit yang bisa berakhir fatal. Beberapa penyakit yang dilatarbelakangi stres adalah penyakit jantung koroner, penyakit autoimun, metastasis berbagai penyakit karsinoma, penyakit kulit, dan lain-lain.

Namun, di sisi lain stres juga dibutuhkan dalam hidup. Contohnya, stres memaksa kita bergegas bangun pagi agar tidak terlambat mencari nafkah, stres memaksa kita berhati-hati mengemudikan kendaraan atau memaksa kita waspada agar tidak melanggar aturan yang bisa mengakibatkan kecelakaan.

Gejala dan Tanda Tanda Stres

Sejumlah gejala dan tanda tanda stres biasanya dialami oleh penderita berupa gangguan fisik seperti sakit kepala, nyeri tengkuk, jantung berdebar-debar, keringat dingin, sesak napas, badan lemas, dan nyeri ulu hati. Sedangkan gangguan psikis dapat ditandai dengan sulit tidur, cemas, khawatir, ketakutan, depresi, sedih, dan kehilangan semangat.

Situasi-situasi yang menyebabkan stres akan direspons dengan kemarahan, depresi, kecemasan, dan frustasi. Respons terhadap stres diawali dengan respons biologis berupa kadar noradrenalin meningkat sehingga muncul kondisi fight or flight yakni lari dari faktor stres atau bertempur mengatasi faktor stres itu.

Respons biologis mengakibatkan peningkatan sistem saraf simpatis seperti jantung berdebar-debar, keringat dingin, sesak napas, tekanan darah meningkat karena aksis hipotalamus-hipofisis-adrenal mulai aktif untuk menghasilkan kortisol.

Stres yang berkelanjutan (persisten) dan tidak terselesaikan oleh adaptasi dan mekanisme penyelesaian masalah akan menyebabkan distres. Distres memicu perilaku melarikan diri (escape) pada kecemasan atau perilaku menarik diri (withdrawal) pada depresi.

Bila keadaan stres berlanjut maka fungsi sistem imun tubuh ditekan berkelanjutan dan akan timbul kerusakan pada sistem imun tubuh baik struktural maupun fungsional. Akhirnya timbul dekompensasi yang memunculkan gangguan klinis seperti ulkus peptikum, penyakit jantung, penurunan fungsi tubuh, kecemasan, dan depresi.

Cara Mengatasi Stres

Tidak seorang pun dapat lari dari stres. Satu-satunya cara menghilangkan stres yang dapat dilakukan adalah menerima situasi stres tersebut sebagai kenyataan dan berupaya mengurangi dampak stres tersebut seminimal mungkin.

Bila antara pengalaman dengan harapan berlanjut, maka harapan harus disesuaikan dengan kenyataan. Mekanisme penanganan masalah yang digunakan terhadap stres sangat ditentukan oleh kepribadian individual. Penyesuaian harapan menjadi lebih realistis merupakan mekanisme penanganan stres pada individu berkepribadian matang.

Penanganan atau cara mengatasi stres dengan pengobatan biasanya menggunakan jenis obat-obatan ansiolitik, benzodiazepin yang diberikan oleh psikiater. Selain itu psikoterapi berupa cognitive behaviour therapy (CBT), stress management training yang terdiri dari self observation, cognitive restructuring, relaxation training, hypnosis, biofeedback, time management, dan problem solving dapat diberikan pula oleh psikiater dan psikolog klinis.***