Sering Berkorban demi Orang Lain? Jangan-Jangan Anda People Pleaser

Pengertian Terapi Drama, Manfaat, dan Cara Penggunaannya
Pengertian Terapi Drama, Manfaat, dan Cara Penggunaannya

Sebelum memahami apa itu people pleaser, renungkan hal ini dalam hati. Beberapa dari Anda mungkin merasa kebahagiaan orang lain adalah prioritas yang harus didahulukan, meskipun itu berarti mengorbankan kebahagiaan atau diri Anda sendiri.

Tak jarang, Anda memberikan segala hal agar orang lain merasa bahagia. Anda terus memberikan waktu atau apa yang Anda miliki bahkan meskipun Anda sempat menyadari jika itu merugikan diri Anda.

Anda bukan malaikat yang baik hati, namun justru menjadi orang yang seringkali mencoba keras untuk membahagiakan orang lain. Biasanya People Pleaser merupakan orang yang melakukan ini karena insekuritas dan kurangnya harga diri (self-esteem).

Menjadi People Pleaser di satu sisi membuat Anda merasa dibutuhkan dan berguna. People Pleaser biasanya ditunjukkan oleh skor Agreeableness dalam Big 5 Personality Factors yang cukup tinggi sehingga cenderung mengutamakan kesenangan orang lain.

Tanda bahwa Anda adalah People Pleaser

People Pleaser bukanlah orang-orang dengan karakter yang salah, melainkan hasrat untuk menyenangkan orang lain inilah yang dapat menjadi isu yang berdampak buruk. Mereka berharap jika selalu melakukan ‘ya’ akan membuat mereka diterima dan disukai oleh lingkungannya.

Beberapa dari mereka belum dapat membedakan ‘menyenangkan orang lain’ dan benar-benar melakukan ‘kebaikan’. Anda mungkin merupakan People Pleaser jika Anda cenderung melakukan hal-hal berikut:

  • People pleaser pura-pura Setuju dengan Orang Lain

    Menghargai pendapat orang lain yang tidak Anda setujui merupakan kemampuan sosial yang baik. Namun, saat Anda berpura-pura untuk setuju atau menyukai pendapat orang lain, bisa saja Anda justru mengorbankan nilai Anda yang sesungguhnya.

  • Merasa bertanggung jawab atas apa yang orang lain rasakan

    Mengenali pengaruh dari tindakan dan perilaku kita terhadap orang lain bisa saja menjadi pertimbangan yang bijaksana. Namun, berpikir jika Anda memiliki kekuatan untuk membuat orang lain bahagia merupakan sumber masalah.

  • People pleaser terlalu sering minta maaf

    Anda cenderung menyalahkan diri Anda secara berlebihan, bahkan untuk hal-hal yang sebenarnya merupakan bagian dari jati diri Anda. Tak jarang, Anda juga merasa tidak nyaman saat orang lain di sekitar Anda merasa kesal atau marah.

  • Tidak mengakui perasaan Anda yang sesungguhnya

     Meskipun merasa terganggu, terbebani, kecewa, atau terluka, Anda tidak mengakui perasaan Anda. Anda jarang memberi tahu orang lain tentang apa yang sebenarnya Anda rasakan. Pada akhirnya hubungan Anda dengan orang lain merupakan hubungan palsu.  

Jika Anda merasa jika beberapa perilaku di atas sering Anda lakukan, belajarlah untuk mengubah beberapa kebiasaan. Anda selalu memiliki kebebasan dan hak untuk memberi respon, mengambil keputusan, berpendapat, dan menjadi diri Anda sendiri.

Perbedaan Anda dan orang lain mungkin dapat menimbulkan konflik, namun yang Anda butuhkan bukanlah sebuah toleransi dengan selalu mengatakan ‘ya’ dan mengorbankan diri Anda, melainkan belajar mengelola konflik antara Anda dan orang lain.