Pengertian Prokastinasi dan Bahaya Menunda Pekerjaan bagi Kesehatan Mental

Pengertian Prokastinasi dan Bahaya Menunda Pekerjaan bagi Kesehatan Mental (pixabay/StartupStockPhotos)
Pengertian Prokastinasi dan Bahaya Menunda Pekerjaan bagi Kesehatan Mental (pixabay/StartupStockPhotos)

Healmind – Simak pengertian Prokastinasi dan bahaya menunda pekerjaan bagi kesehatan mental seseorang, di sini.

Menunda tugas hingga akhir adalah kecenderungan yang dialami kebanyakan orang suatu hari nanti. Perilaku tersebut dapat terjadi karena berbagai alasan, termasuk motivasi rendah, kelelahan, dan manajemen waktu yang buruk.

Melansir laman resmi Dirjen Yankes Kemenkes RI, Prokrastinasi merupakan perilaku yang tidak efisien dalam menggunakan waktu dan adanya kecenderungan untuk tidak segera memulai suatu pekerjaan serta penghindaran karena perasaan tidak senang terhadap tugas dan takut gagal.

Penundaan yang dilakukan berkaitan dengan sistem otak manusia yang memproses emosi dan memori. Bagian otak yang disebut amigdala biasanya lebih besar dan terlalu aktif di procrastinator.

Amigdala yang terlalu aktif dapat menyebabkan ketakutan akan efek perilaku yang merugikan. Cara termudah untuk mengatasi kecemasan adalah dengan menunda perilaku atau tugas yang menyebabkan kecemasan.

Dengan kata lain, orang cenderung menghindari pekerjaan yang membuat stres untuk meningkatkan mood mereka dengan cepat. Namun hal tersebut ternyata memiliki dampak buruk yaitu penundaan tidak hanya membuat pekerjaan menjadi lebih sulit. Sebuah studi menunjukkan bahwa penundaan juga meningkatkan risiko tekanan darah tinggi dan penyakit kardiovaskular.

Penundaan pekerjaan penting dapat menyebabkan stres. Hal ini dapat meningkatkan risiko terkena tekanan darah tinggi dan penyakit kardiovaskular. Penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa terlalu banyak menunda-nunda dapat menyebabkan masalah kesehatan terkait stres seperti sakit kepala, masalah pencernaan, pilek, flu, dan insomnia.

Dampak buruk lainnya dari procrastinator antara lain ketidakmampuan untuk berkonsentrasi, ketakutan dan cemas, kurang yakin terhadap kemampuan yang dimiliki dan aspek yang terkait dengan instansi yaitu beban tugas yang semakin menumpuk, prestasi belajar yang rendah (Harinja, 2018).

Perilaku menunda mengakibatkan seorang procrastinator cenderung selalu diliputi rasa stres yang tinggi, prestasi belajar yang rendah, serta memiliki kesejahteraan psikologis yang rendah.

Kesejahteraan psikologis atau psychological well-being didefiniskan sebagai kombinasi dari afek yang positif, seperti kebahagiaan dan keberfungsian hidup yang optimal dalam kehidupan individu dan sosial.

Seseorang yang memiliki kesejahteraan psikologis yang positif cenderung memiliki tekanan psikologis yang rendah, begitu juga sebaliknya seseorang yang memiliki kesejahteraan psikologis yang rendah ia cenderung mengalami tekanan psikologis yang tinggi (Winefield, dkk., 2012).

Individu yang memiliki kesejahteraan psikologis yang tinggi akan merasa puas dengan kehidupannya, stabil emosinya, mampu melewati pengalaman yang kurang menyenangkan yang dihasillkan oleh kondisi emosi yang negatif dan lain sebagainya. Kesejahteraan psikologis yang dimiliki individu akan mempengaruhi persepsi subyektif dirinya atas segalam proses kehidupan yang dialaminya.

Prokrastinasi dapat berpengaruh terhadap gaya hidup, masalah kesehatan, dan kesempatan akademik di masa yang akan datang (Kademir, 2014). Dampak prokrastinasi yang berkaitan dengan kesejahteraan psikologis tentunya harus menjadi aspek yang diperhatikan, karena hal tersebut erat kaitannya dengan produktivitas seseorang di tempat bekerja dan bagaimana seorang staf memiliki motivasi kerja yang baik atau tidak.

Itulah pengertian Prokastinasi dan bahaya menunda pekerjaan bagi kesehatan mental seseorang.***