Pengertian Paranoid, Penyebab, Gejala, Cara Mengatasi, dan Cara Mencegahnya

Penyebab dan Cara Mengatasi ADHD untuk Anak-anak
Penyebab dan Cara Mengatasi ADHD untuk Anak-anak

Healmind – Simak penjelasan tentang pengertian paranoid, penyebab, gejala, cara mengatasi, dan cara mencegahnya, di sini.

Apa itu Paranoid?

Paranoid adalah gangguan kepribadian yang dapat memengaruhi pola pikir dan perilaku seseorang. Kondisi ini dapat membuat seseorang merasa kesulitan untuk memahami dan memercayai situasi tertentu maupun orang lain.

Penyebab Paranoid

Belum diketahui secara pasti apa kondisi yang menyebabkan seseorang mengalami gangguan paranoid. Namun, para ahli menduga bahwa gangguan paranoid adalah gangguan kepribadian yang berkaitan erat dengan faktor genetik dan gangguan kejiwaan tertentu, seperti skizofrenia atau gangguan cemas.

Selain itu, sejumlah faktor yang bisa meningkatkan risiko terjadinya gangguan kepribadian paranoid adalah sebagai berikut:

  • Terdapat anggota keluarga yang juga mengalami gangguan kepribadian paranoid.
  • Malnutrisi sejak di dalam kandungan.
  • Terkena infeksi yang diturunkan oleh ibu selama masih di dalam kandungan.
  • Trauma masa lalu, seperti child abuse baik itu kekerasan fisik, emosional, maupun seksual, kehilangan orang terdekat, hidup dalam kemiskinan, dan lain sebagainya.
  • Penyalahgunaan NAPZA.
  • Mengonsumsi minuman beralkohol secara berlebihan.

Gejala Paranoid

Paranoid adalah gangguan mental yang dapat membuat seseorang selalu waspada dan menganggap orang lain akan menyakiti, berbuat jahat, menipu, ataupun mengancam diri mereka. Selain itu, sejumlah gejala atau tanda yang umum ditemui pada penderita gangguan paranoid adalah sebagai berikut:

  1. Khawatir bahwa orang lain memiliki motif tersembunyi saat berhubungan dengan mereka.
  2. Menganggap dirinya akan digunakan atau dieksploitasi oleh orang lain.
  3. Meragukan kesetiaan dan komitmen orang lain.
  4. Enggan untuk menceritakan masalah atau kehidupan pribadi dengan orang lain, bahkan dengan orang terdekat sekalipun.
  5. Sulit untuk memaafkan atau bahkan cenderung menyimpan dendam pada orang lain.
  6. Sangat sensitif dengan kritikan.
  7. Berburuk sangka dengan setiap bahasa tubuh, ucapan, atau penampilan orang lain.
  8. Memiliki kepribadian yang tertutup dan cenderung menjaga jarak dengan orang lain.
  9. Selalu merasa benar saat sedang menghadapi suatu konflik atau masalah.
  10. Cenderung keras kepala, tidak bersahabat, dan banyak beralasan (argumentatif).
  11. Sering menanggapi perkataan orang lain dengan terburu-buru, agresif, dan penuh amarah.

Diagnosis Gangguan Paranoid

Sebelum menegakkan diagnosis, dokter dapat melakukan anamnesis (wawancara medis) untuk mengevaluasi keluhan serta riwayat kesehatan pasien secara menyeluruh. Selanjutnya, dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik untuk menyingkirkan kemungkinan bahwa gejala yang dialami pasien disebabkan oleh kondisi medis lain.

Selanjutnya, dokter dapat mengonfirmasi diagnosis gangguan kepribadian paranoid pada pasien berdasarkan kriteria penyakit yang tertera di buku The Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders Edisi ke-5 (DSM-5).

Pasien dapat didiagnosis menderita gangguan kepribadian paranoid apabila memenuhi empat atau lebih dari beberapa kriteria berikut ini.

  • Merasa orang lain akan menipu atau mencelakakan dirinya tanpa disertai alasan yang jelas.
  • Menganggap orang di sekitarnya tidak bisa diandalkan.
  • Cenderung menutup diri dan enggan menceritakan kehidupan pribadi ke orang lain, karena khawatir informasi tersebut dapat digunakan untuk memfitnah atau menipu dirinya.
  • Menyimpan dendam saat dirinya disakiti oleh orang lain.
  • Mencurigai pasangannya tidak setia meskipun tidak disertai dengan alasan yang jelas.
  • Mengartikan kejadian biasa sebagai sesuatu yang dapat mengancam dirinya.
  • Mudah marah saat berpikir bahwa orang lain sedang merendahkan dirinya.

Cara Mengatasi Paranoid

Pada dasarnya, pengobatan gangguan paranoid sama seperti penanganan gangguan kepribadian lainnya. Namun, pengobatan untuk kondisi ini cenderung lebih sulit dilakukan karena pasien gangguan paranoid kerap mencurigai dan tidak percaya dengan orang lain, termasuk dengan psikolog/psikiater.

Oleh karena itu, seorang psikolog/psikiater akan mencoba untuk membangun hubungan yang kooperatif dengan pasien sebelum melakukan pengobatan.

Setelah itu, psikolog/psikiater dapat melanjutkan prosedur pengobatan gangguan paranoid melalui beberapa penanganan medis, di antaranya sebagai berikut.

1. Psikoterapi

Salah satu jenis psikoterapi yang umum dilakukan untuk menangani gangguan paranoid adalah terapi perilaku kognitif (cognitive behavioral therapy/CBT). Terapi ini dianggap sebagai metode pengobatan yang efektif untuk membantu pasien dalam menyesuaikan pola pikir serta perilaku yang menyimpang

2. Pemberian Obat-obatan

Apabila gangguan paranoid disertai dengan gangguan cemas hingga depresi parah, seorang psikiater dapat membantu meredakan kondisi tersebut dengan meresepkan obat-obatan tertentu, seperti:

  • Antidepresan, seperti fluoxetine, sertraline, atau amitriptyline.
  • Antipsikotik, seperti haloperidol atau thioridazine.
  • Anticemas, seperti alprazolam, diazepam.

3. Dukungan dari Orang Terdekat

Selain pengobatan medis, dukungan dari orang-orang terdekat juga diperlukan agar pasien bisa menghadapi gangguan paranoid tersebut. Karena itu, orang-orang terdekat diharapkan dapat mengenal karakteristik pengidap gangguan paranoid guna membantu menumbuhkan kepercayaan dari pasien dan bisa saling berkomunikasi dengan baik.

Cara Mencegah Paranoid

Paranoid adalah gangguan kepribadian yang cenderung sulit untuk dicegah. Kendati demikian, terdapat sejumlah cara yang bisa dilakukan untuk meminimalkan risiko terjadinya gangguan kepribadian paranoid, yaitu:

  • Mengelola stres sebaik mungkin.
  • Menjaga hubungan sosial yang baik dengan orang lain.
  • Menghindari konsumsi minuman beralkohol secara berlebihan.
  • Tidak menyalahgunakan obat-obatan terlarang.
  • Menerapkan pola hidup sehat, seperti mengonsumsi makanan sehat dengan gizi seimbang, istirahat dan tidur yang cukup, serta rutin berolahraga.***