Pengertian Konseling Pernikahan dan Masalah yang Bisa Diatasi

Pengertian Konseling Pernikahan dan Masalah yang Bisa Diatasi
Pengertian Konseling Pernikahan dan Masalah yang Bisa Diatasi
Healmind – Simak pengertian konseling pernikahan dan manfaatnya, di sini.

Pengertian konseling pernikahan?

Dikutip dari Mayo Clinic, konseling pernikahan atau perkawinan, sering juga disebut dengan terapi pasangan, adalah jenis psikoterapi khusus untuk pasangan yang sudah menikah. Jenis terapi ini dapat membantu pasangan suami istri dalam mengenali dan menyelesaikan konflik rumah tangga mereka.

Biasanya, konseling ini dilakukan oleh pasangan yang sedang mempertimbangkan perceraian atau yang mencari cara untuk meningkatkan keintiman.

Dengan melakukan konseling ini, Anda dan pasangan dapat membuat keputusan yang bijak untuk membangun atau memperkuat kembali pernikahan Anda.

Sebagaimana psikoterapi pada umumnya, konseling perkawinan diberikan oleh terapis berlisensi, seperti psikolog atau psikiater. Namun, terapis yang dipilih biasanya yang sudah terlatih khusus menangani permasalahan rumah tangga dan keluarga, atau disebut juga dengan konselor pernikahan.

Meski demikian, tak seperti psikoterapi pada umumnya, konseling masalah suami istri seringkali bersifat jangka pendek.

Mayo Clinic menyebut, konsultasi ini bisa dilakukan oleh kedua pasangan, tetapi bisa juga dilakukan sendirian. Adapun rencana perawatannya tergantung pada masalah dan kondisi dari masing-masing pasangan.

Kondisi yang memerlukan konseling pernikahan

Umumnya, setiap pasangan suami istri, baik yang baru maupun sudah lama, yang memiliki masalah apapun dalam rumah tangga dapat melakukan konseling perkawinan.

Namun, beberapa masalah spesifik yang umumnya sering dibantu dengan konseling pernikahan adalah:

  • Terdapat masalah komunikasi atau komunikasi yang buruk.
  • Ketidakpuasan seksual.
  • Masalah keuangan rumah tangga.
  • Masalah kepercayaan, termasuk ketidaksetiaan atau adanya tanda pasangan selingkuh.
  • Tidak sependapat tentang cara pengasuhan anak.
  • Konflik dengan keluarga besar, termasuk mertua atau ipar.
  • Penyalahgunaan zat.
  • Masalah kemarahan.
  • Sering terjadi konflik atau tingkat stres dalam pernikahan yang tinggi.
  • Perubahan besar dalam hidup yang memengaruhi pernikahan, seperti kematian orang yang dicintai, pindah rumah, pekerjaan baru, atau pensiun.
  • Perebutan kekuasan.