Mengenal Apa Itu PTSD, Post Traumatic Stress Disorder Akibat Bencana dan Peran Perawat untuk Menanganinya

Cara Manajemen Stres untuk Menjaga Kesehatan Jiwa
Cara Manajemen Stres untuk Menjaga Kesehatan Jiwa

Healmind – Simak penjelasan mengenai apa itu Post Traumatic Stress Disorder atau PTSD akibat bencana dan peran perawat dalam menangani hal ini, di sini.

PTSD (Post Traumatic Stress Disorder) merupakan sindrom yang dialami oleh seseorang yang mengalami kejadian yang traumatis dan individu tersebut tidak mampu menghilangkan ingatan akan kejadian tersebut dari pikirannya.

PTSD kemungkinan berlangsung berbulan-bulan, bertahun-tahun atau sampai beberapa dekade dan mungkin baru muncul setelah beberapa bulan atau tahun setelah adanya pemaparan terhadap peristiwa traumatis.

Sebagaiman diketahui, Indonesia memiliki wilayah yang luas yang terletak di garis khatulistiwa pada posisi silang antara dua benua dan dua samudera, berada dalam wilayah yang memiliki kondisi georafis, geologis, hidrologis, dan demografis yang rawan terhadap terjadinya bencana dengan frekuensi yang cukup tinggi.

Indonesia berada di atas lempeng benua yang aktif, dijejeri dengan deretan gunung api yang sangat aktif yang disebut ring of fire.

Peristiwa bencana senantiasa disertai dengan cerita tragis penderitaan manusia yang seakan – akan tidak ada habis – habisnya.

Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupanmasyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis (Peraturan Pemerintah no.21 th.2008).

Melansir laman resmi Dirjen Yankes Kemenkes RI, Shanti Wardaningsih, M.Kep., Sp. Kep. Jiwa., PhD, Keynote Speaker dalam 4th International Emergency Nursing Camp (IENC) mengatakan “Trauma psikologis merupakan jenis kerusakan jiwa yang terjadi sebagai akibat dari peristiwa traumatik, dalam hal ini adalah bencana. Kerusakan tersebut dapat mengakibatkan ketidakteraturan regulasi neuropsikologi yang akan menggangu kemampuan korban dalam bertindak atau merespon suatu tindakan,” ujarnya ketika memberikan presentasi mengenai Psychological Problems in Disaster: Cause, Effect, and Treatment di ruang sidang A.R Fachruddin B Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) ditahun 2017 yang lalu.

Menurut Nuari, bencana alam bisa menginisiasi berbagai macam gangguan seperti distress, disorder dan health risk behaviour.

Apabila hal tersebut tidak mendapatkan perhatian akan menyebabkan timbulnya PTSD (Post Traumatic Stress Disorder) PTSD merupakan sindrom yang dialami oleh seseorang yang mengalami kejadian yang traumatis dan individu tersebut tidak mampu menghilangkan ingatan akan kejadian tersebut dari pikirannya.

PTSD kemungkinan berlangsung berbulan-bulan, bertahun-tahun atau sampai beberapa dekade dan mungkin baru muncul setelah beberapa bulan atau tahun setelah adanya pemaparan terhadap peristiwa traumatis.

Peran perawat sangat diperlukan dalam mengatasi gejala PTSD dengan memberikan terapi-terapi seperti, Cognitive Behavior Therapy (CBT), Trauma Healing dan permainan kelompok dapat diberikan pada anak-anak korban bencana untuk mengurangi resiko terjadinya gangguan stress pascatrauma akibat dari disaster.

Hal ini merupakan bagian dari disaster nursing competency dalam mendukung fungsi psikologis para korban bencana.

Disaster nursing competency merupakan hal yang belakang ini menjadi trend dalam keperawatan di Indonesia karena letak posisi Indonesia yang penuh dengan gunung berapi sehingga mempunyai peluang terjadi bencana alam.

Disaster nursing competency meliputi 4 kompetensi yaitu

– Kompetensi Mitigasi,
– Kompetensi Pencegahan,
– Kompetensi Respon, Dan
– Kompetensi Rehabilitasi/ Recovery.

Kompetensi respon meliputi perawatan terhadap komunitas; perawatan terhadap individu dan keluarga; perawatan psikologis dan perawatan terhadap kelompok yang rentan/ berkebutuhan khusus.

Hal ini terkait dengan peran perawat dalam melakukan perawatan psikologis pasca bencana agar tidak menimbulkan maslah psikologis pasien seperti adanya PTSD. Seorang perawat pada tahap tanggap darurat diharapkan dapat menyediakan perawatan kesehatan baik fisik dan mental.

Perawatan disediakan dalam berbagai pengaturan dalam kondisi bencana yang membutuhkan perawat berpengetahuan, terampil dan kreatif. Seorang perawat dituntut mampu melakukan koordinasi perawatan, menentukan apakah standar pelayanan harus diubah, membuat rujukan yang tepat, triase, penilaian, pengendalian infeksi dan evaluasi.

Mengingat berbedanya treatment yang dibutuhkan korban bencana untuk menangani trauma psikologi, Shanti Wardaningsih, M.Kep., Sp. Kep. Jiwa., Ph.D dalam 4th International Emergency Nursing Camp (IENC) mengatakan beberapa hal yang dapat dijadikan acuan.

“Perawat dapat memberikan Psychological First Aid untuk korban. Pertolongannya mengacu pada beberapa aspek, pertama Safety, Calm, Connectedness, Self-Efficacy, dan Hope. Tujuannya agar perawat dapat merespon keadaan sesuai dengan yang dibutuhkan oleh korban,” ungkapnya.

Itulah penjelasan mengenai apa itu Post Traumatic Stress Disorder atau PTSD akibat bencana dan peran perawat dalam menangani hal ini.***