Mengenal Apa itu Picky Eater, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

Mengenal Apa itu Picky Eater, Penyebab, dan Cara Mengatasinya
Mengenal Apa itu Picky Eater, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

Healmind – Simak penjelasan tentang apa itu Picky Easter, penyebab, dan cara mengatasinya, di sini.

Mengenal Picky Eater

DFikutip dari laman resmi Primaya Hospital, Picky eater adalah istilah yang kerap dipakai untuk mengacu pada anak yang sering menolak makan atau enggan mencicipi makanan baru yang belum pernah dicoba. Namun sejatinya belum ada kesepakatan dari para pakar mengenai definisi formal untuk perilaku pilih-pilih makanan ini. Selain pada anak-anak, perilaku picky eating ini didapati pada orang dewasa.

Yang jelas, orang yang menjadi picky eater berisiko mengalami berbagai masalah kesehatan. Bagi anak-anak, picky eating berkaitan dengan kondisi kelebihan berat badan dan kekurangan berat badan. Meski begitu, wajar bila anak-anak, terutama yang berusia balita, menolak makan atau mencoba makanan baru. Biasanya perilaku ini muncul ketika anak memasuki usia 2 tahun dan akan hilang seiring dengan pertambahan usia.

Karena itu, orang tua sebaiknya tak terlalu khawatir berlebihan hingga terpicu emosinya saat mendapat sang buah hati pilih-pilih makanan.

Orang tua hanya perlu mengamati perilaku tersebut secara berkesinambungan untuk mengidentifikasi apakah ada yang ganjil. Sebab, ada juga kemungkinan picky eating adalah salah satu tanda adanya gangguan perilaku yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Picky eater setidaknya bisa dibedakan menjadi 7 jenis berdasarkan perilakunya, yakni:

  • Regresor: anak dari awalnya lahap memakan semua jenis makanan tiba-tiba jadi pilih-pilih makanan pada usia tertentu
  • Pembenci rasa: anak hanya suka makan makanan yang tanpa rasa atau hambar, seperti susu murni, unsalted butter, sereal gandum dengan susu, dan biskuit
  • Penyuka minum: anak sangat sulit diberi makan makanan padat, hanya mau minum susu atau jus
  • Perasa tekstur: anak enggan makan makanan tertentu dengan alasan teksturnya, misalnya wortel dianggap terlalu keras, puding terlalu lembek, atau bakso terlalu alot
  • Pemuntah: anak selalu membuat gestur seolah-olah menahan muntah dengan menutup mulutnya atau justru sering muntah ketika makan sendiri ataupun disuapi
  • Pemilih bentuk: anak hanya mau makan makanan dengan bentuk sajian tertentu, misalnya sop dengan isian dipisah, tidak dicampur di satu mangkok
  • Pemilih warna: anak hanya mau makan makanan dengan warna tertentu

Gejala Picky Eater

Ketika anak menjadi picky eater, umumnya gejala yang muncul terlihat jelas: tidak mau makan makanan tertentu, dari menutup mulut memakai tangan, mendorong piring menjauh, hingga kabur dari meja makan.

Gejala picky eater lain yang sering teridentifikasi termasuk:

  • Malas-malasan ketika disuruh makan
  • Sibuk sendiri pada jam makan
  • Memuntahkan makanan yang sudah masuk ke mulut
  • Mengeluh sakit atau membuat alasan macam-macam untuk menghindari jam makan
  • Hanya mau makan di luar rumah
  • Cuma mau makan sedikit daripada biasanya
  • Harus didorong bahkan dipaksa untuk mencoba makanan baru

Penyebab Anak Picky Eater

Terdapat sejumlah hal dari orang tua yang bisa membuat anak menjadi picky eater, seperti:

  • Kesulitan memberi makan kepada anak saat bayi
  • Terlambat mengenalkan makanan padat atau bertekstur saat disapih
  • Sering memaksa anak makan
  • Dari awal sering memilih-milihkan makanan tertentu untuk anak
  • Kurang variatif dalam menyajikan hidangan makan
  • Tidak membuat jadwal makan yang teratur

Selain itu, ada kaitan antara kebiasaan pilih-pilih makanan dengan autisme. Picky eating bisa menjadi salah satu tanda awal autisme. Anak dengan autisme cenderung sensitif terhadap tekstur makanan yang masuk ke mulutnya. Begitu pula dengan aroma, bentuk, dan temperatur makanan tersebut..

Cara Mengatasi Anak yang Picky Eater

Bila orang tua mendapati anaknya menjadi picky eater, satu hal yang harus diingat bahwa perilaku ini lazim terjadi di kalangan anak-anak. Jadi mengedepankan emosi bukanlah pilihan untuk mengatasi masalah pilih-pilih makanan pada anak. Orang tua bisa mencoba sejumlah cara berikut ini:

  • Makan makanan yang sama dengan anak, tapi tak perlu memakai garam untuk makanan. anak agar anak tak cenderung lebih suka makanan asin.
  • Makan bersama dengan anak dan tunjukkan bahwa orang tua menyukai makanan itu.
  • Berikan anak porsi yang kecil dan berikan pujian meski ia hanya makan sedikit.
  • Ketika anak menolak makanan, jangan memaksanya makan. Tetap tenang dan ambil makanan itu tanpa mengatakan apa-apa. Coba berikan makanan itu di lain waktu.
  • Jangan biarkan anak terlalu lapar atau terlalu capek, baru memberikan makanan.
  • Bersabarlah bila anak makan dengan lambat. Pastikan tidak ada distraksi yang membuatnya tidak fokus makan.
  • Jangan berikan anak terlalu banyak makanan ringan di sela-sela makan berat.
  • Jangan berikan makanan sebagai hadiah, terutama makanan yang manis-masing. Anak akan merasa cokelat, permen, dan sejenisnya lebih nikmat daripada sayuran dan nasi.
  • Buatlah pengalaman makan yang menyenangkan, misalnya dengan diselingi mengobrol.
  • Jika tahu ada anak seusia buah hati yang makannya lahap, coba undang orang tuanya untuk datang dan makan bersama di rumah, tapi jangan memuji anak tersebut secara berlebihan di depan anak sendiri.
  • Bila ada anggota keluarga yang disukai atau dihormati anak, ajaklah ia makan bersama. Misalnya kakek, nenek, om, atau tante. Kadang anak lebih gampang makan jika ada orang favoritnya di sana.
  • Ubah cara penyajian makanan agar lebih menarik. Misalnya anak mungkin menolak wortel iris bundar, tapi ketika diberi wortel yang diparut ia lahap makannya.
  • Libatkan anak dalam proses pemasakan dan penyajian makanan.***