Ini Alasan Kenapa Kamu Membuat Keputusan Yang Buruk

Body Dysmorphic Disorder: Pengertian, Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasi
Body Dysmorphic Disorder: Pengertian, Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasi

Healmind – Keputusan buruk yang biasa kita ambil, kira-kira, berapa kali kamu membuat sebuah keputusan per-harinya? mungkin bisa ratusan atau ribuan.

Beberapa dari keputusan yang di ambil sebenarnya memiliki efek terhadap diri kita, seperti keinginan untuk berkuliah.

Sementara keputusan yang lainnya relatif sepele atau biasa saja, seperti hari ini ingin memasak apa.

Beberapa keputusan yang diambil dapat memberi dampak yang bagus seperti kamu memilih jurusan perkuliahan yang kedepannya dapat berdampak pada jenjang karir kamu.

Sementara keputusan sepele bisa memberi dampak yang biasa saja atau buruk.

Saat kamu melihat kembali kehidupan dan memikirkan tentang beberapa keputusan buruk yang kamu buat, kamu mungkin akan bertanya-tanya mengapa membuat sebuah keputusan yang tampak begitu buruk?

Meskipun tidak perlu dijelaskan lagi bahwa kamu mungkin saja tetap akan membuat suatu keputusan yang buruk,  kamu bisa memahami lebih dalam proses di balik pengambilan keputusan yang buruk tersebut.

Ada beberapa faktor yang berperan dalam membuat keputusan yang buruk.

Dengan mengetahui beberapa faktor ini, mungkin dapat membantu kamu dalam membuat keputusan yang lebih baik kedepannya.

Selanjutnya, pelajari alasan mengapa terkadang kita membuat sebuah keputusan yang buruk

1. Terlalu cepat mengambil keputusan

Jika kita terus memikirkan berapa banyak keputusan yang harus kita ambil, kita mungkin tidak bisa menyelesaikannya dalam satu hari.

Ketika ingin membuat keputusan dengan cepat dan ekonomis, terkadang otak kita mengambil jalan pintas kognitif yang dikenal dengan sebutan Heuristik.

Heuristik merupakan mental shortcut (pintasan mental) yang memungkinkan orang untuk memecahkan masalah dan membuat penilaian dengan cepat dan efisien

Kondisi ini memungkinkan kita membuat sebuah penilaian yang cepat dan akurat, tapi juga dapat menimbulkan pemikiran yang kabur dan keputusan yang buruk.

2. Keputusan buruk ternyata sering membuat perbandingan yang salah

Perbandingan atau membandingkan merupakan salah satu alat utama yang digunakan saat mengambil keputusan.

Sama halnya ketika kamu ingin membeli sebuah gadget, kamu akan membandingkan harganya agar dapat menemukan harga terbaik yang diingkan.

Tapi, bagaimana jika kamu membuat suatu perbandingan yang buruk? sebagai contoh, jika kamu diminta untuk menyimpan uang Rp. 50 ribu atau membayar Rp 150 ribu untuk barang seharga Rp 350 ribu, mana yang kamu pilih?

Kebanyakan orang akan membuat sebuah perbandingan yang salah dengan memilih untuk menyimpan uang Rp. 50 ribu daripada membayar Rp. 150 ribu untuk barang yang harganya sebesar Rp. 350 ribu.

Hal ini dikarenakan mereka menganggap menyimpan uang Rp. 50 ribu lebih besar daripada membayar lebih mahal tapi bisa mendapat barang seharga Rp. 350 ribu.

Saat membuat keputusan, kita sering membuat perbandingan dengan cepat tanpa benar-benar memikirkan pilihan kita.

3. Keputusan buruk dikarenakan terlalu optimis

Terkadang, orang yang cenderung terlalu optimis dapat menghambat kita dalam mengambil keputusan yang baik.

Misalnya, ketika orang diberi tahu bahwa risiko terjadinya sesuatu yang buruk lebih rendah dari yang mereka harapkan, mereka kemudian cenderung menyesuaikan prediksi mereka agar sesuai dengan informasi baru yang mereka pelajari.

Ketika mereka menemukan bahwa risiko terjadinya sesuatu yang buruk sebenarnya jauh lebih tinggi daripada yang mereka perkirakan, mereka cenderung mengabaikan informasi baru tersebut.

Misalnya, jika seseorang memprediksikan bahwa kemungkinan orang meninggal karena merokok hanya 5% tetapi kemudian diberitahu bahwa risiko kematian sebenarnya mendekati 25%, mereka kemungkinan besar akan mengabaikan informasi baru dan tetap berpegang pada perkiraan awal mereka.

Jadi, apa dampak dari berpikir terlalu optimis? karena mungkin kita terlalu optimis tentang kemampuan dan prospek diri kita sendiri, kita cenderung merasa bahwa keputusan kita adalah yang terbaik, sehingga sulit untuk menerma informasi lain yang membantu kita untuk menghindari membuat keputusan yang buruk.

sumber: verywellmind.com