Jenis-jenis Terapi untuk Anak Autisme dan Manfaatnya

Jenis-jenis Terapi yang Cocok untuk Anak Autis dan Manfaatnya
Jenis-jenis Terapi yang Cocok untuk Anak Autis dan Manfaatnya

Healmind – Simak jenis-jenis terapi untuk anak autisme dan penjelasannya, di sini.

Anak dengan autisme membutuhkan perhatian ekstra dari orang tua. Mereka cenderung bertindak berbeda dengan orang-orang lain. Maka tak jarang mereka lantas menghadapi berbagai kesulitan dalam kehidupan sehari-hari.

Dokter anak dapat membantu memberikan perawatan sesuai dengan kebutuhan anak yang memiliki autisme. Salah satu caranya lewat terapi autis yang bertujuan membantu mendukung perkembangan kemampuan anak.

Ada banyak pilihan terapi bagi anak autis. Terapi oleh dokter anak ini disesuaikan dengan kondisi yang dialami anak. Dokter mungkin mengombinasikan beberapa terapi demi hasil yang dinilai lebih menjanjikan bagi anak, tentunya dengan sokongan orang tua.

Jenis Terapi untuk Anak Autisme

Berikut beberapa jenis terapi untuk anak autisme, dikutip dari Primaya Hospotal:

– Terapi Okupasi

Terapi okupasi membantu anak-anak agar dapat aktif dan bersedia terlibat dalam berbagai hal di kehidupan sehari-hari mereka.

Dokter anak akan menilai kebutuhan anak dan menentukan metode terbaik untuk mengembangkan, memodifikasi, mengadaptasi, atau mendapatkan kembali keterampilan yang sebelumnya sulit dilakukan karena keterbatasan mereka.

Lewat terapi okupasi, dokter membantu anak mengembangkan keterampilan yang kelak dibutuhkan ketika beranjak dewasa. Anak akan diberi terapi agar bisa mengakses lingkungan alami dengan lebih mudah, meningkatkan kemandirian, serta memperbaiki kemampuan mereka untuk mengambil bagian dalam aktivitas sehari-hari.

– Terapi Bicara

Salah satu diagnosis gejala pada anak autis adalah kurangnya keterampilan komunikasi. Kondisi ini membuat mereka sulit berkomunikasi dengan orang lain dalam derajat tertentu.

Beberapa anak mungkin tak bisa berbicara sama sekali, sementara anak lain masih bisa mengobrol tentang topik-topik tertentu. Tidak hanya komunikasi verbal, mereka juga mungkin sulit berkomunikasi secara non-verbal, misalnya dengan gerakan tangan, kontak mata, atau ekspresi wajah.

Dokter anak bisa memberikan terapi bicara untuk meningkatkan kemampuan bicara serta memperbaiki keterampilan non-verbal mereka.

Anak juga bisa diajari menggunakan metode komunikasi lain yang sesuai dengan kondisi mereka. Dengan demikian, mereka bisa lebih memahami komunikasi orang lain dan mampu menyampaikan ujaran dengan lebih baik.

– Terapi Keterampilan Sosial

Keterampilan sosial mengacu pada kemampuan anak untuk menjalin komunikasi dengan orang lain lewat cara yang dapat diterima dan sesuai dengan situasi sosial.

Bila anak memiliki keterampilan sosial, mereka dapat menjalin pertemanan dengan baik. Anak dengan autisme sebetulnya juga ingin berteman dan berbicara kepada orang lain, tapi mereka belum tahu cara yang tepat.

Dokter anak akan berupaya mengajari keterampilan sosial itu berdasarkan kondisinya. Dokter akan menanamkan kepercayaan diri dan memberikan pengetahuan tentang keterampilan sosial agar anak mampu bersosialisasi dengan lingkungan sekitar.

– Terapi Sensori

Anak-anak dengan spektrum autisme sering mengalami kesulitan atau kurang peka dalam hal modulasi sensorik. Artinya, mereka harus berusaha lebih keras untuk memproses penglihatan, suara, sentuhan, rasa, penciuman, posisi tubuh, dan keseimbangan.

Hal ini berdampak pada kemampuan anak untuk melakukan aktivitas rutin, seperti menyikat gigi, berinteraksi dengan keluarga saat makan bersama, atau berpartisipasi saat istirahat jeda pelajaran di sekolah.

Aktivitas sederhana seperti menyikat gigi mungkin menjadi rutinitas biasa bagi banyak orang. Tapi, bagi anak dengan autisme, kegiatan itu sulit karena problem sensorik mereka.

Dokter anak akan menggunakan berbagai teknik dan strategi untuk mengidentifikasi masalah sensorik ini agar bisa memberikan terapi yang tepat sehingga anak dapat memperoleh keterampilan yang dibutuhkan.

– Analisis Perilaku Terapan

Terapi analisis perilaku terapan mengacu pada upaya mengurangi perilaku anak dengan autisme yang mengganggu, misalnya mengamuk, agresif, dan melukai diri sendiri.

Terapi ini juga efektif untuk meningkatkan keterampilan sosial yang dianggap menantang bagi anak dengan autisme, misalnya terlibat dalam lingkungan sosial, berkomunikasi, bermain, dan mandiri.