Mengenal Emotional Dependence, Ketika Cinta Justru Membawa Rasa Lelah

emotional dependence

Memiliki pasangan yang mampu mendukung, memberikan semangat, dan selalu ada untukmu tentunya terasa menyenangkan. Perasaan cinta yang identik dengan jantung berdebar, rasa hampa tanpa kehadirannya, serta keinginan untuk selalu menghabiskan waktu bersama. Berdasarkan review Giulio tahun 2020, jatuh cinta dan kecanduan obat bahkan memiliki beberapa kesamaan. Adanya euforia saat jatuh cinta hingga perasaan depresi dan kecemasan setelah putus rupanya mirip dengan fase kecanduan dan putus obat. Namun, bagaimana jika rasa cinta yang kamu dan pasangan rasakan justru mendatangkan rasa lelah? Mungkin saja “cinta” yang ada dalam hubunganmu sebenarnya merupakan bentuk ketergantungan emosional atau emotional dependence antara kamu pada pasanganmu atau sebaliknya. 

Seperti Apa Bentuk Emotional Dependence?

Cinta bisa punya banyak bentuk, tergantung bagaimana setiap orang mengekspresikan cintanya. Namun, cinta tidak pernah datang dari rasa takut. Yups, kamu mungkin tanpa sadar sering mendengar atau mengucapkan jika ada rasa takut kehilangan yang justru membuat kamu atau pasangan jadi posesif dan sangat terikat satu sama lain. Bukan cinta, hal ini melainkan rasa butuh antara kamu dan pasangan yang menjadi berlebihan. 

Jika ketergantungan emosional ada dalam hubungan romantismu bersama pasangan, hubunganmu tidak lagi memiliki makna. Tanpa sadar, kamu dan pasangan mungkin hanya saling berusaha untuk mengisi dan memuaskan kebutuhan masing-masing. Tentunya, setiap manusia saling membutuhkan satu sama lain. 

Namun, ketergantungan emosional layaknya membiarkan orang lain bertanggung jawab atas kebutuhan yang sebenarnya mampu kamu penuhi. Pada akhirnya, kamu bergantung pada pasanganmu agar dapat merasa utuh dan terpenuhi. 

Sering merasa takut akan kehilangan pasanganmu, merasa insecure terus-menerus, serta merasa cemas terus-menerus merupakan beberapa bentuk ketergantungan emosional yang mungkin sering kamu atau pasanganmu alami. Pertanyaan seperti “Masihkah dia mencintaiku? Apakah aku baik-baik saja? Apakah kita akan putus?” merupakan pertanyaan-pertanyaan umum yang sering muncul dalam benakmu atau pasanganmu. 

Kamu merasa sangat membutuhkan pasanganmu hingga sampai pada titik selalu merasa takut kehilangannya dan kurang percaya. Ada keyakinan bahwa hidupmu akan terasa hampa dan kamu tidak lagi berharga tanpa kehadirannya. Nah, hal ini juga yang terkadang membuat seseorang cenderung bertahan dalam hubungan yang toxic, meskipun dipenuhi dengan kekerasan fisik maupun psikologis. 

Mengatasi Emotional Dependence dalam Hubunganmu

Emotional Dependence berawal dari rendahnya self-esteem mu atau pasanganmu sehingga merasa butuh seseorang untuk memenuhi kebutuhan emosionalmu. Selain itu, rendahnya self-esteem membuat kamu atau pasanganmu selalu menyalahkan diri sendiri atas gagalnya atau munculnya suatu masalah dalam hubunganmu. 

Tentunya, tidak salah untuk mencari dukungan positif dari pasanganmu. Namun, ada baiknya kamu mencoba menyelesaikan masalahmu terlebih dahulu. Kamu perlu memahami dan mengenali perasaanmu sendiri sebelum akhirnya menemukan cara untuk mengatasinya sehingga kamu bisa jadi lebih mandiri dan cukup kuat untuk mengendalikan emosi dan perasaanmu. 

Kenali juga kapan kamu mulai menunjukkan perilaku ketergantungan pada pasanganmu. Misalnya, kamu merasa tertolak dan takut kehilangannya saat mereka menghabiskan banyak waktu dengan orang lain. Dengan mengidentifikasi trigger dari rasa ketergantunganmu, kamu dapat menemukan cara untuk mengatasinya. Berbicara dengan teman dekatmu atau dengan positive self-talk dapat membantumu. 

Belajarlah untuk lebih terbuka mengkomunikasikan kebutuhan masing-masing. Jika perlu, kamu dan pasangan juga dapat menetapkan batasan tertentu. Misalnya, untuk lebih mendahulukan tanggung jawab penting dalam pekerjaan sebelum saling berbicara untuk menguatkan satu sama lain atas masalah yang sedang dihadapi. 

Meskipun punya mimpi dan tujuan bersama serta merasa saling membutuhkan dukungan satu sama lain, bukan berarti cinta dan berada dalam hubungan romantis membuat kamu dan pasangan merasa tergantung satu sama lain. Ada kepentingan dan tanggung jawab yang perlu diselesaikan masing-masing pribadi serta ada kebutuhan yang dapat dipenuhi sendiri.

Sumber: 

  1. https://www.healthline.com/health/emotional-dependency#takeaway
  2. https://www.mindbodygreen.com/0-14987/are-you-in-love-or-are-you-emotionally-dependent.html
  3. https://www.cadabamshospitals.com/overcoming-emotional-dependency/
  4. Perrotta, Giulio. (2020). Affective Dependence: From Pathological Affectivity to Personality Disorders. DOI:10.15342/hs.2020.333