Depresi – Ciri-Ciri, Penyebab, dan Pengobatannya

Penyebab Depresi dan Cara Mengatasi Rasa Hampa
Penyebab Depresi dan Cara Mengatasi Rasa Hampa

Depresi adalah suatu gangguan kesehatan mental yang ditandai dengan suasana hati yang selalu tertekan atau kehilangan minat untuk melakukan sesuatu.

Depresi atau yang dikenal juga sebagai gangguan mayor merupakan gangguan mood yang umum, tapi berbahaya.

Gangguan kesehatan mental ini dapat memengaruhi perasaan, pikiran, dan aktivitas sehari-hari, mulai dari tidur, makan, hingga bekerja.

Ciri-ciri depresi

Untuk dapat mengetahui seseorang mengalaminya atau tidak, ada beberapa gejala umum yang menjadi ciri-ciri depresi.

  • Merasa sedih atau tertekan.
  • Kehilangan minat untuk menjalani aktivitas.
  • Perubahan nafsu makan yang kemudian berdampak pada penurunan (sekalipun tidak diet) atau kenaikan berat badan.
  • Gangguan tidur, seperti sulit tidur atau terlalu banyak tidur.
  • Kehilangan energi atau peningkatan kelelahan.
  • Melakukan aktivitas fisik tanpa tujuan, seperti susah untuk duduk diam, mondar-mandir, meremas-remas tangan, gerakan atau bicara yang melambat.
  • Merasa tidak berharga atau bersalah.
  • Kesulitan berpikir, berkonsentrasi, atau membuat keputusan
  • Berpikir tentang kematian atau bunuh diri.

Seseorang diduga mengalami depresi kalau ciri-ciri di atas berlangsung setidaknya dua minggu. Walaupun begitu, ciri-ciri tersebut dapat menjadi gejala penyakit tiroid, tumor otak atau kekurangan vitamin. 

Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk memastikan gangguan kesehatan yang terjadi.

Penyebab depresi

Berdasarkan laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) dari Kementerian Kesehatan tahun 2018, depresi memengaruhi berbagai kelompok usia.

Dari data Riskesdas tersebut, dapat dilihat jumlah penderita berdasarkan prevalensinya. Prevalensi menjadi indikator jumlah penderita dalam suatu populasi. 

  • Usia 15-24 tahun dengan prevalensi 6,2 persen.
  • Usia 25-34 tahun dengan prevalensi 5,4 persen.
  • Usia 35-44 tahun dengan prevalensi 5,6 persen.
  • Usia 45-54 tahun dengan prevalensi 6,1 persen.
  • Usia 55-64 tahun dengan prevalensi 6,5 persen.
  • Usia 65-74 tahun dengan prevalensi 8,0 persen.
  • Usia >75 tahun dengan prevalensi 8,9 persen.

Dengan penderita dari berbagai usia, apa yang menjadi penyebab depresi?

1. Pelecehan 

Pelecehan fisik, seksual, atau emosional (bullying) memicu terjadinya gangguan psikis.

2. Usia

Sebagaimana data Riskesdas, orang berusia lanjut lebih rentan mengalami depresi. Kondisi ini bertambah buruk karena hidup sendiri dan kurangnya dukungan sosial.

3. Obat-obatan tertentu

Risiko gangguan psikis ini dapat meningkat akibat obat-obatan, seperti isotretinoin, obat antivirus interferon-alpha, dan kortikosteroid.

4. Konflik

Adanya konflik pribadi atau perselisihan dengan anggota keluarga atau teman memicu terjadinya gangguan psikis ini.

5. Kematian atau kehilangan

Kesedihan terjadi pada siapa saja dan merupakan kewajaran, termasuk sedih karena kehilangan orang yang dicintai. Namun, kondisi ini dapat meningkatkan risiko depresi.

6. Jenis kelamin 

Wanita ternyata lebih rentan alami depresi dibandingkan pria. Perubahan hormon mungkin berperan dalam munculnya gangguan psikis tersebut.

7. Peristiwa tertentu

Peristiwa-peristiwa tertentu berisiko menjadi pemicu, seperti memulai pekerjaan baru, lulus, menikah, pindah tempat tinggal, kehilangan pekerjaan, perceraian, ataupun pensiun.

8. Masalah pribadi lain 

Terisolasi hingga diusir dari keluarga atau kelompok sosial menjadi faktor munculnya gangguan psikis ini.

9. Penyakit serius

Penyakit serius bisa menjadi penyebab depresi. Kondisi medis yang dialami penderita menjadi gangguan pikiran yang berdampak pada kesehatan mental.

10. Penyalahgunaan zat

Akibat penyalahgunaan zat tidak hanya kecanduan, tapi  juga depresi. Efek obat-obatan atau alkohol hanya sementara dalam meringankan gejala, tapi setelahnya akan memperburuk keadaan.

Macam-macam depresi

Depresi memiliki beberapa macam tergantung tingkat keparahan seseorang yang mengalami gangguan ini.

1. Gangguan Depresi Persisten

Bentuk depresi kronis jangka panjang. Gangguan persisten menyebabkan suasana hati tertekan yang dapat berlangsung setidaknya selama dua tahun atau bisa bertahun-tahun.

Seseorang yang didiagnosis dengan gangguan persisten biasanya akan mengalami gejala dari yang paling rendah hingga paling berat.

Orang yang mengalami gangguan persisten akan kehilangan minat untuk menjalani kehidupannya, merasa putus asa, dan kurang produktif.

2. Depresi Pasca Persalinan

Ini adalah depresi yang terjadi setelah melahirkan. Gangguan pasca persalinan dapat lebih parah daripada ‘baby blues’ yang dialami banyak wanita setelah melahirkan.

Wanita dengan gangguan kesehatan mental pasca persalinan akan mengalami gejala berat selama kehamilan atau setelah melahirkan.

Biasanya setelah seorang melahirkan akan timbul perasaan sangat sedih, cemas, dan letih yang menyertai gangguan pasca persalinan yang mungkin menyulitkan para ibu baru ini untuk menyelesaikan kegiatan perawatan sehari-hari untuk diri sendiri atau bayinya.

3. Depresi Psikotik

Jenis gangguan kesehatan mental psikotik biasanya terjadi ketika seseorang mengalami gejala berat ditambah beberapa bentuk psikosis, seperti mengalami delusi atau mendengar atau melihat hal-hal yang tidak dapat didengar atau dilihat orang lain (halusinasi).

Gejala psikotik biasanya ditunjukkan dalam bentuk delusi rasa bersalah, kemiskinan, atau penyakit.

4. Gangguan Afektif Musiman

Biasanya muncul saat bulan-bulan terjadinya pergantian musim, seperti dari musim panas ke dingin.

Depresi ini biasanya disertai dengan penarikan diri dari sosial, peningkatan tidur, dan penambahan berat badan.

5. Gangguan Bipolar

Gangguan bipolar sebenarnya berbeda dengan depresi, tapi karena seseorang dengan gangguan bipolar mengalami suasana hati yang sangat rendah hingga memasuki kriteria dalam kategori gejala berat.

Namun, orang dengan gangguan bipolar juga dapat mengalami suasana hati yang terlalu gembira dan sangat mudah tersinggung.

Pengobatan depresi

Gangguan psikis ini bisa diatasi dengan penanganan yang tepat. Rata-rata pasien mendapat pertolongan berkat pengobatan.

Namun, untuk mendapat pengobatan, penderita harus melakukan diagnosis dan wawancara terlebih dahulu. Nantinya tenaga medis spesialis psikiatri atau psikiater mengevaluasi hasil diagnosis.

Dalam beberapa kasus, pasien diminta melakukan tes darah untuk memastikan depresi bukan diakibatkan kondisi medis semisal masalah tiroid atau kekurangan vitamin.

Evaluasi diperlukan untuk mengidentifikasi gejala,mengeksplorasi riwayat medis, keluarga, dan faktor budaya serta lingkungan sehingga bisa merencanakan tindakan yang akan diambil.

Umumnya, psikiater akan mengambil tindakan medis, seperti:

  • Psikoterapi untuk meminimalkan dampak depresi
  • Meresepkan obat depresi atau antidepresan.
  • Terapi listrik atau electroconvulsive therapy (ECT) untuk pengobatan depresi mayor.
  • Perawatan di rumah sakit untuk penanganan depresi berat.

Referensi: