6 Cara yang Harus Dilakukan Keluarga untuk Menjaga Kesehatan Mental Anak

A. Pengertian Bimbingan dan Konseling Keluarga Dalam kehidupan masyarakat di manapun juga, keluarga merupakan unit terkecil yang peranannya sangat besar. Peranan yang sangat besar itu disebabkan oleh karena keluarga (yakni keluarga batik) mempunyai fungsi yang sangat penting bagi kelangsungan hidup bermasyarakat. Apabila fungsi keluarga tidak berjalan dengan baik maka timbul ketidak serasian dalam hubuyngan antara anggota keluarga, dapat dikatakan keluarga itu mempunyai masalah. Adanya individu (keluarga) yang mempunyai masalah, maka diperlukan adanya Bimbingan dan Konseling untuk mengusahakan pencegahannya atau memberikan bantuan dalam pemecahan masalahnya. Pengertian bimbingan keluarga yang dikemukakan oleh Cooley (dalam C. Suwarni, 1980) bimbingan keluarga adalah bantuan yang diberikan kepada keluarga untuk meningkatkan kesadaran dan tanggung jawab anggota keluarga serta memberikan pengetahuan dan keterampilan demi terlaksananya usaha kesejahteraan keluarga. Perez (dalam Sayekti, 1994) mengemukakan konseling keluarga (family therapy) sebagai berikut: Family therapy is an intuative process which seeks to aid the family in reganning a home ostatic balance whith which the members are comfortable. In perseing this objective the family therapist operates under certain basic assumprions. Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa konseling keluarga adalah suatu proses interaktif untuk membantu keluarga dalam mencapai keseimbangan di mana setiap anggota keluarga merasakan kebahagiaan. B. Tujuan Bimbingan dan Konseling Keluarga Menurut Colley (dala C. Suwarni, 1980) tujuan Bimbingan dan Konseling keluarga adalah: 1. Membantu agar mereka yang dibimbing dapat bertindak seefisien mungkin. 2. Membantu agar seseorang atau keluarga menjadi sadar akan kemampuan dirinya, akan kebutuhan-kebutuhannya, baik kebutuhan jasmani, rohani maupun sosial, sadar akan kepentingan-kepentingannya dan sadar akan tujuan-tujuannya. 3. Untuk menggerakkan kekuatan anggota keluarga dan keluarga agar dapat berusaha menyusuaikan diri dengan lingkungan di mana ia berada, dengan hasil yang nyata. 4. Membantu seseorang atau keluarga untuk mendapatkan keterampilan dan kecakapan dalam mengurus diri dan keluarganya, memperkembangkan atau memajukan keluarga dengan jalan: a. Memberikan pendidikan dan menerangkan mengenai kemungkinan-kemungkinan tercapainya tujuan sesuai dengan kemampuannya. b. Mencari jalan dan cara-cara untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. c. Mengembangkan nilai-nilai kebudayaan dan kemasyarakatan yang sesuai dengan tujuan tersebut. Sejalan dengan itu Sayekti (1994) menjelaskan tujuan umum konseling keluarga adalah: 1. Membantu keluarga belajar dan memahami bahwa dinamika keluarga merupakan hasil pengaruh hubungan antar anggota keluarga. 2. Membantu anggota keluarga agar dapat menerima kenyataan bahwa bila salah satu anggota keluarga memiliki permasalahan, mereka dapat memberikan pengaruh tidak tidak baik pada persepsi, harapan dan interaksi anggota keluarga yang lain. 3. Memperjuangkan dengan gigih dalam proses konseling, sehingga anggota keluarga dapat tumbuh dan berkembang guna mencapai keseimbangan dan keselarasan. 4. Mengembangkan rasa penghargaan dari seluruh anggota keluarga pada anggota yang lain. Selanjutnya Sayekti (1994) mengemukakan tujuan khusus konseling keluarga, yaitunya: 1. Mendorong anggota keluarga agar memiliki toleransi kepada anggota keluarga yang lain. 2. Agar anggota keluarga mampu memberi motivasi, dorongan semangat pada anggota keluarga yang lain. 3. Agar orang tua dapat memiliki persepsi yang realistis dan sesuai dengan persepsi anggota keluarga yang lain. Bimbingan dan Konseling keluarga adalah suatu usaha yang realistis dan konstruktif untuk menyadarkan akan kebutuhan-kebutuhan mereka sendiri dalam memperkembangkan diri. Untuk itu perlu disadarkan bahwa dalam diri mereka terdapat kemungkinan-kemungkinan untuk memperkembangkan diri dan memperbaiki nasib dalam bidang ekonomi, kesehatan, sosial dan agama. Tujuan akhir dari Bimbingan dan Konseling keluarga adalah untuk membantu anggota keluarga dan keluarga sebagai satu kesatuan untuk mencapai kesejahteraan keluarga. Konseling dalam keluarga adalah konseling yang diberikan pada anggota keluarga dan keluarga menyangkut masalah keluarga yang mengganggu ketentraman dan kebahagiaan hidup keluarga itu. C. Fungsi Bimbingan dan Konseling Keluarga Fungsi Bimbingan dan Konseling keluarga dikemukakan oleh C. Suwarni (1994) sebagai berikut: 1. Memberikan pengaruh psikologis kepada keluarga supaya timbul usaha dari keluarga itu sendiri untuk menyelesaikan kesulitannya, sehingga keluarga menolong dirinya sendiri ke arah perbaikan. 2. Menghubungkan dengan jalan menjelaskan kebutuhan dan mengarahkan pola pemikirannya menuju penentuan dan penggunaan sumber-sumber bantuan. 3. Membangun keluarga sehingga dengan usahanya sendiri dapat mengembangkan kemampuannya seoptimal mungkin. Berdasarkan fungsi Bimbingan dan Konseling keluarga tersebut, keluarga harus dibantu untuk melihat, menimbang, memutuskan dan berbuat, agar keluarga dapat membuka mata dan hati mereka untuk memperhatikan dan merasakan keadaan diri mereka sendiri serta sesama manusia denga suatu sikap yang baru. Masalah-masalah yang ada pada keluarga atau anggota keluarga biasanya tidak kelihatan. Kemampuan konselor sangat diperlukan untuk menemukan, menumbuhkan dan mengarahkan minat, menyadarkan kebutuhan-kebutuhan serta kepentingan-kepentingan keluarga.
A. Pengertian Bimbingan dan Konseling Keluarga Dalam kehidupan masyarakat di manapun juga, keluarga merupakan unit terkecil yang peranannya sangat besar. Peranan yang sangat besar itu disebabkan oleh karena keluarga (yakni keluarga batik) mempunyai fungsi yang sangat penting bagi kelangsungan hidup bermasyarakat. Apabila fungsi keluarga tidak berjalan dengan baik maka timbul ketidak serasian dalam hubuyngan antara anggota keluarga, dapat dikatakan keluarga itu mempunyai masalah. Adanya individu (keluarga) yang mempunyai masalah, maka diperlukan adanya Bimbingan dan Konseling untuk mengusahakan pencegahannya atau memberikan bantuan dalam pemecahan masalahnya. Pengertian bimbingan keluarga yang dikemukakan oleh Cooley (dalam C. Suwarni, 1980) bimbingan keluarga adalah bantuan yang diberikan kepada keluarga untuk meningkatkan kesadaran dan tanggung jawab anggota keluarga serta memberikan pengetahuan dan keterampilan demi terlaksananya usaha kesejahteraan keluarga. Perez (dalam Sayekti, 1994) mengemukakan konseling keluarga (family therapy) sebagai berikut: Family therapy is an intuative process which seeks to aid the family in reganning a home ostatic balance whith which the members are comfortable. In perseing this objective the family therapist operates under certain basic assumprions.Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa konseling keluarga adalah suatu proses interaktif untuk membantu keluarga dalam mencapai keseimbangan di mana setiap anggota keluarga merasakan kebahagiaan.B. Tujuan Bimbingan dan Konseling Keluarga Menurut Colley (dala C. Suwarni, 1980) tujuan Bimbingan dan Konseling keluarga adalah: 1. Membantu agar mereka yang dibimbing dapat bertindak seefisien mungkin. 2. Membantu agar seseorang atau keluarga menjadi sadar akan kemampuan dirinya, akan kebutuhan-kebutuhannya, baik kebutuhan jasmani, rohani maupun sosial, sadar akan kepentingan-kepentingannya dan sadar akan tujuan-tujuannya. 3. Untuk menggerakkan kekuatan anggota keluarga dan keluarga agar dapat berusaha menyusuaikan diri dengan lingkungan di mana ia berada, dengan hasil yang nyata. 4. Membantu seseorang atau keluarga untuk mendapatkan keterampilan dan kecakapan dalam mengurus diri dan keluarganya, memperkembangkan atau memajukan keluarga dengan jalan: a. Memberikan pendidikan dan menerangkan mengenai kemungkinan-kemungkinan tercapainya tujuan sesuai dengan kemampuannya. b. Mencari jalan dan cara-cara untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. c. Mengembangkan nilai-nilai kebudayaan dan kemasyarakatan yang sesuai dengan tujuan tersebut. Sejalan dengan itu Sayekti (1994) menjelaskan tujuan umum konseling keluarga adalah: 1. Membantu keluarga belajar dan memahami bahwa dinamika keluarga merupakan hasil pengaruh hubungan antar anggota keluarga. 2. Membantu anggota keluarga agar dapat menerima kenyataan bahwa bila salah satu anggota keluarga memiliki permasalahan, mereka dapat memberikan pengaruh tidak tidak baik pada persepsi, harapan dan interaksi anggota keluarga yang lain. 3. Memperjuangkan dengan gigih dalam proses konseling, sehingga anggota keluarga dapat tumbuh dan berkembang guna mencapai keseimbangan dan keselarasan. 4. Mengembangkan rasa penghargaan dari seluruh anggota keluarga pada anggota yang lain. Selanjutnya Sayekti (1994) mengemukakan tujuan khusus konseling keluarga, yaitunya: 1. Mendorong anggota keluarga agar memiliki toleransi kepada anggota keluarga yang lain. 2. Agar anggota keluarga mampu memberi motivasi, dorongan semangat pada anggota keluarga yang lain. 3. Agar orang tua dapat memiliki persepsi yang realistis dan sesuai dengan persepsi anggota keluarga yang lain. Bimbingan dan Konseling keluarga adalah suatu usaha yang realistis dan konstruktif untuk menyadarkan akan kebutuhan-kebutuhan mereka sendiri dalam memperkembangkan diri. Untuk itu perlu disadarkan bahwa dalam diri mereka terdapat kemungkinan-kemungkinan untuk memperkembangkan diri dan memperbaiki nasib dalam bidang ekonomi, kesehatan, sosial dan agama. Tujuan akhir dari Bimbingan dan Konseling keluarga adalah untuk membantu anggota keluarga dan keluarga sebagai satu kesatuan untuk mencapai kesejahteraan keluarga. Konseling dalam keluarga adalah konseling yang diberikan pada anggota keluarga dan keluarga menyangkut masalah keluarga yang mengganggu ketentraman dan kebahagiaan hidup keluarga itu.C. Fungsi Bimbingan dan Konseling Keluarga Fungsi Bimbingan dan Konseling keluarga dikemukakan oleh C. Suwarni (1994) sebagai berikut: 1. Memberikan pengaruh psikologis kepada keluarga supaya timbul usaha dari keluarga itu sendiri untuk menyelesaikan kesulitannya, sehingga keluarga menolong dirinya sendiri ke arah perbaikan. 2. Menghubungkan dengan jalan menjelaskan kebutuhan dan mengarahkan pola pemikirannya menuju penentuan dan penggunaan sumber-sumber bantuan. 3. Membangun keluarga sehingga dengan usahanya sendiri dapat mengembangkan kemampuannya seoptimal mungkin. Berdasarkan fungsi Bimbingan dan Konseling keluarga tersebut, keluarga harus dibantu untuk melihat, menimbang, memutuskan dan berbuat, agar keluarga dapat membuka mata dan hati mereka untuk memperhatikan dan merasakan keadaan diri mereka sendiri serta sesama manusia denga suatu sikap yang baru. Masalah-masalah yang ada pada keluarga atau anggota keluarga biasanya tidak kelihatan. Kemampuan konselor sangat diperlukan untuk menemukan, menumbuhkan dan mengarahkan minat, menyadarkan kebutuhan-kebutuhan serta kepentingan-kepentingan keluarga.

Healmind – Simak 6 cara yang harus dilakukan keluarga untuk menjaga kesehatan mental anak, di sini.

Gangguan jiwa merupakan masalah yang serius dan penting untuk ditangani. Gangguan jiwa dapat terjadi pada siapa saja, termasuk anggota keluarga terdekat termasuk anak.

Sama seperti kesehatan tubuh, menjaga kesehatan mental anak merupakan salah satu hal yang tidak kalah pentingnya. Gangguan jiwa umumnya ditandai dengan munculnya beragam gejala. Apabila tidak segera ditangani, aktivitas sehari-hari dapat terganggu.

Orangtua akan mudah mengidentifikasi kebutuhan fisik dari anak. Mulai dari makanan dengan gizi yang tercukupi hingga pakaian yang sesuai dengan kebutuhan.

Namun, kebutuhan mental anak mungkin akan sulit untuk mengidentifikasinya. Padahal kesehatan mental anak juga sangat perlu dipenuhi. Apabila kesehatan mental anak terpenuhi, maka anak akan dapat berpikir dengan jernih, memiliki perkembangan yang baik dan sesuai dengan usianya, serta antusias dalam mempelajari keterampilan baru.

Menemani anak dan memberikan kata-kata penyemangat dari orang dewasa kepada anak dapat membantu anak mengembangkan kepercayaan diri, harga diri, dan pandangan emosional yang sehat tentang kehidupan.

Dilansir dari laman resmi Dirjen Yankes Kemenkes RI, ada beberapa hal yang semua anggota keluarga dapat lakukan untuk menjaga kesehatan mental anak, antara lain sebagai berikut:

1. Memberikan Pujian Pada Anak

Memberikan pujian atas kemampuan anak dapat membantu mereka mengembangkan keinginan untuk mengeksplorasi hal baru dan belajar. Biarkan anak bereksplorasi dan bermain sesuai dengan usianya. Yakinkan anak dengan tersenyum dan seringlah mengajak anak untuk berbicara. Jadilah peserta aktif dalam setiap kegiatan anak. Perhatian dari keluarga dapat membantu anak untuk membangun kepercayaan dan harga dirinya.

2. Menetapkan Tujuan yang Realistis

Anak membutuhkan tujuan realistis yang sesuai dengan ambisi dan kemampuan mereka. Dengan bantuan keluarga, anak dapat memilih kegiatan baru yang dapat menguji kemampuan mereka dan meningkatkan kepercayaan diri.

3. Jujur

Jangan sembunyikan kegagalan yang anggota keluarga alami dari anak. Penting bagi mereka untuk mengetahui bahwa semua orang pasti membuat kesalahan. Dengan mengetahui bahwa orang dewasa tidak sempurna bisa membantu mereka memahami kehidupan.

4. Menyelaraskan Perkataan dan Perbuatan

Penting bagi orang tua untuk memberikan contoh perilaku yang baik kepada anak karena pada hakikatnya anak akan lebih mudah mencontoh perilaku yang dilakukan oleh orangtuanya daripada hanya mendengar perkataan belaka.

5. Menghindari Komentar Sarkastik

Jika seorang anak gagal dalam sebuah ujian, cari tahu bagaimana perasaan anak mengenai situasi tersebut. Anak mungkin akan berkecil hati. Namun jika orangtua tahu situasi yang tepat, maka ajaklah anak untuk berbicara. Menerima kegagalan adalah salah satu cara terbaik untuk menguatkan kesehatan mental anak.

6. Menyemangati dan Memotivasi Anak

Jangan selalu meminta anak untuk berusaha mendapatkan hasil yang terbaik, tetapi ajari anak untuk selalu menikmati proses yang dilakukan. Mengeksplorasi aktivitas baru akan mengajarkan anak tentang teamwork, harga diri, dan keterampilan baru.

Menciptakan lingkungan kondusif merupakan tugas yang berat bagi keluarga. Jika keluarga berhasil menciptakan lingkungan yang kondusif, maka diharapkan dapat menjaga kesehatan mental seorang anak dalam masa perkembangannya. Apabila keluarga mengalami kesulitan, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan para profesional yang tepat. Yuk bangun keluarga yang sehat baik fisik maupun mental.***