4 Gangguan Mental Akibat Penyalahgunaan Narkoba

Tanda-tanda Lelah Otak dan Cara Mengatasinya
Tanda-tanda Lelah Otak dan Cara Mengatasinya

Healmind – Simak 4 gangguan mental yang bisa terjadi akibat penggunaan narkoba, berikut ini.

Gangguan mental atau gangguan jiwa (mental illness/mental disorder) merupakan suatu kondisi kesehatan dimana individu tersebut mengalami perubahan dalam pola pikir, emosi, atau perilaku maupun gabungan dari ketiga perubahan tersebut.

Bagaimana narkoba dapat menyebabkan gangguan mental?

Dilansir dari laman resmi Kemenkes, penyalahgunaan narkoba dapat menyebabkan gangguan mental karena narkoba berpengaruh terhadap otak, yaitu dengan mempercepat atau memperlambat sistem saraf pusat.

Akibatnya terjadi perubahan dalam perasaan, pikiran dan perilaku penggunanya. Zat-zat yang terkandung dalam narkoba mempengaruhi batang otak, sistem limbik dan korteks serebral.

Batang otak berfungsi untuk mengontrol organ vital kehidupan seperti pernapasan dan detak jantung. Sistem limbik mengatur emosi seseorang termasuk perasaan bahagia dan senang.

Sedangkan korteks serebral merupakan pusat berpikir otak, sehingga mempengaruhi seseorang dalam mengelola informasi, mengambil keputusan, kemampuan memecahkan masalah.

Jika narkoba semakin sering digunakan, maka fungsi otak terganggu dan muncul ketergantungan terhadap narkoba tersebut2.

4 macam gangguan mental akibat penggunaan narkoba

1. Depresi

Depresi ditandai dengan perasaan bersedih, perasaan putus asa, pesimis, perasaan bersalah, tidak berharga, kesulitan berkonsentrasi, mengingat dan membuat keputusan, pikiran bunuh diri bahkan percobaan bunuh diri3.

Beberapa studi menunjukkan bahwa narkoba golongan opioid dapat memberikan efek euforia semu yang bersifat sesaat akibat rangsangan di otak.

Namun pada penggunaan jangka panjang dapat meningkatkan ambang batas rasa bahagia atau muncul toleransi sehingga dibutuhkan lebih banyak obat lagi untuk mendapatkan efek yang diinginkan. Jika hal ini terus berlanjut, maka, yang akhirnya muncul adalah disforia alias perasaan murung, sedih, tidak puas diri, depresi hingga resiko bunuh diri2.

2. Skizophrenia

Skizofrenia ditandai dengan distorsi pikiran, persepsi, emosi, bahasa, dan perilaku. Skizofrenia ditandai dengan adanya halusinasi penglihatan, pendengaran, atau merasakan sesuatu yang tidak ada. Gejala lain dari skizofrenia dapat berupa delusi, dan juga perilaku abnormal seperti penampilan aneh, bicara tidak koheren, berkeliaran, bergumam atau tertawa sendiri, pengabaian diri1.

Pada penggunaan ganja, bahan kimia psikoaktif dalam ganja yaitu delta-9-tetrahydrocannabinol (THC) berinteraksi dengan reseptor di otak, yaitu hippocampus, otak kecil dan ganglia basal. Oleh karena itu, ketika seseorang menyalahgunakan ganja, maka timbul gangguan pada keterampilan motorik, perubahan suasana hati, distorsi waktu, penurunan memori, dan kesulitan berpikir serta memecahkan masalah2.

Penggunaan ganja dapat menimbulkan paranoid, gejala psikotik seperti pemikiran tidak teratur (disorganized), halusinasi, dan delusi. Seseorang yang menggunakan ganja jangka panjang dapat berkembang menjadi skizofrenia4.

3. Gangguan bipolar

Gangguan bipolar merupakan gangguan mental yang ditandai dengan perubahan emosi yang drastis dari rasa senang (gejala mania) yang ekstrim menjadi depresi yang parah, ataupun sebaliknya3.

Gangguan bipolar dapat muncul sebagai komorbiditas bagi seseorang dengan penyalahgunaan zat, namun juga dapat muncul sebagai dampak penyalahgunaan narkoba itu sendiri. Gangguan bipolar sangat erat kaitannya dengan ketergantungan alkohol dan obat-obatan lainnya seperti kokain, amfetamin, opiat dan ganja5.

Penggunaan narkoba dapat memicu ketidakseimbangan neurotransmitter sehingga mempengaruhi kerja otak. Kokain dan sabu (metamfetamin) secara cepat meningkatkan kadar dopamine pada otak sehingga menimbulkan euphoria.

Setelah efek obat hilang maka penggunanya akan merasa sangat lelah, lapar, mudah tersinggung, bingung secara mental dan depresi. Penggunaan jangka panjang kokain dan sabu dapat menyebabkan paranoia.

4. Dementia

Dementia merupakan gangguan mental yang ditandai dengan penurunan fungsi kognitif. Penurunan fungsi kognitif tersebut mempengaruhi memori, proses pikir, orientasi, kalkulasi, kapasitas belajar, bahasa, dan pengambilan keputusan.

Penggunaan ganja mengakibatkan perubahan pada fungsi kognitif seseorang, dengan gejala defisit dalam pembelajaran verbal, penurunan daya ingat (memori) dan perhatian.

Ekstasi (MDMA) dan sabu yang merupakan zat stimulansia, menyebabkan peningkat energi dan distorsi indra tubuh.

Zat tersebut secara signifikan merusak sistem dopamin di otak, sehingga menimbulkan masalah dengan memori dan proses pembelajaran, gerakan dan regulasi emosional.

Penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan pengguna mengalami halusinasi, kecemasan, kebingungan dan penurunan daya ingat.